Enigma akan Terungkap



kemarin dan detik yang lalu menyublim segala kemungkinan yang padat itu. Merubah dan melepasnya ke udara menjadi gas harapan, dilalui tanpa fasa cairan angan yang tercecer. zat impian itu dapat menyerap energi semesta dengan percepatan perwujudan


          Aku mengenalnya lewat jarak. Saat raga ini hanya bisa memeluk abstraksi kehampaan. Mencoba menukar serpihan harap dengan pertemuan. Sempat kuterbangkan melalui Do’a yang kusemogakan di sepertiga malam diantara bintang-bintang. berharap sampai pada kemustajaban. Aku mengenalnya melalui metafor yang abstrak. Seperti perumpaan dalam sajak yang paling jujur. Membuahkan akumulasi bait yang paling puitis, melahirkan kata yang paling dramatis dan romantis. Aku mengenalnya lewat ketinggian. Pernah seirama dalam langkah, pernah satu pikir dalam tuju, untuk menyapa Tuhan dari rentetan keindahan awan, dari atas ketinggian, sembari melantuntkan ayat suci tentang perjalanan.

          Beruntung, aku diperkenalkan padanya lewat sebuah senyuman, bukan gombalan. Menyebalkan, senyumanya merangsek masuk kedalam rencana hidupku. secara sporadis memporak porandakan  kepingan tanya yang membuncah dalam benak. Siapakah gerangan? Aku sangat berterimakasih pada terik, telah menghalau pandanganku saat hendak mencuri pandang dari balik dedaunan yang membisu itu. Terimakasih pada jarak yang telah menjadi hijab, menutupi yang tak seharusnya dilihat, melindungi yang tak seharusnya disentuh, fungsinya menjaga, dan tahu betul waktu yang tepat untuk mempersatukan. Dan aku bersyukur kita berjarak.

         Kita pernah sedekat jejak dengan bumi, bahkan seakrab nyanyian burung dengan pagi. Ya, takan pernah terganti. Meski kita sadari, kita  pernah sejauh mentari dengan bumi, pernah sebising deru angin, pernah sekasar debur ombak. Tapi kau dan aku tahu bahwa hati yang baik akan bertemu dengan yang baik. Percayakan semuanya pada Tuhan. Yakinlah, yang lalu akan menjadi usang, yang usang akan tergantikan. Setiap perasaan adalah berlian, maka jangan pernah kita tinggalkan, rawatlah dan jadikan pelajaran. Ternyata kita memerlukan jarak untuk sampai pada pertemuan, membutuhkan rindu untuk tahu kadar kemurnian perasaan.


          Ada hal yang tak pernah bosan aku sampaikan pada Tuhan, adalah mengenai Dia, seorang titipan yang masih menjadi misteri, enigma yang hanya bisa terungkap dengan Do'a. Kerinduan yang akan terbit dengan saling menjaga kesucian. Keindahan yang didapat dengan ikhtiar. Untukmu yang aku belum tahu keberadaanmu, kuharap engkau sama denganku. Sedang meniti jalan yang sama menuju keabadian yang akan Tuhan anugerahkan

Komentar